Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2016

Thanks

Rasa haru menyelimuti hatiku, saat tulisanku yang berjudul " Kisah yang belum terungkap, Maaf yang terlambat " telah dia baca dan dia memberikan balasan yang sangat menyentuh. Dia mencurahkan dalam sebuah tulisan pada akun FB nya ( wasimah bazmul ). Kau yang disana dengan kisah hidupmu yang tanpa aku, semoga kita akan dipertemukan kembali oleh waktu dan berbagi kisah hidup denganku. kita adalah sahabat yang memiliki kisah hidup yang berbeda tapi punya ikat yang sama "SAHABAT".  i am, you are n' we are is FRENDSHIP ha.S

DEJA VU

Deja vu.. Seperti sesuatu keadaan yang pernah terjadi terulang kembali dimasa yang berbeda. Deja vu.. Mungkin itu kata yang tepat untuk mengungkapkan kisah yang terjadi padaku. Seperti kisah yang telah aku tulis sebelumnya, kisah itu terulang kembali. Seperti menggores pisau tepat pada luka pisau yang lama. Masalah yang sedikit berbeda tapi masa dan keadaan yang sama. Tepat sebelum Ramadhan, tepat kami dilingkaran yang sama. Sama dengan keadaan belum bisa keluar dari lingkaran itu, dan harus terus saling bekerjsama. Deja vu... Sama, tidak saling sapa seperti orang yang tidak saling kenal. Sama sebelumnya adalah sahabat dekat sebelum terjadi masalah itu. Dan akhirnya masing-masing bersikap yang sama, tidak ada yang ingin menyapa terlebih dahulu. Masing-masing dengan pendapatnya sendiri dan dengan egonya sendiri. Deja vu.. Karena ini deja vu, seharusnya  akan tau akhirnya seperti apa. Hanya apakah ingin mengakhiri dengan akhir yang sama atau ingin membuatnya b...

Kisah Yang Belum Terungkap, Maaf Yang Terlambat.

Maaf.. Satu kata memberi banyak perubahan. maaf.. satu kata yang terkadang sulit untuk di ungkapkan.. Banyak kisahku yang berhubungan dengan kata maaf yang tekadang aku sesali, kenapa kata itu sulit untuk aku ucapkan pada waktu itu. Dulu waktu aku masih sekolah di PM Gontor aku punya sahabat baik, namanya cime. aku pernah bertengkar dengannya hanya karena hal sepele, dia adalah orang yang suka berceri tetang banyak hal. pada suatu hari aku merasa semua yang dia ceritakan itu terlalu berlebihan terlalu di buat-buat menurutku. hingga akhirnya aku merasa jengkel dengan semua yang dia ceritakan ini. aku merasa muak disaat itu. hingga akhirnya saat itu bulan ramadhan sebelum menjelang buka puasa aku marah padanya hanya karena segelas es buah. dan setelah itu kami tidak pernah saling sapa lagi. padahal kami adalah teman satu kamar, satu bidang di OPPM yakni di bagian Kesenian yang mengharuskan kita untuk saling berkomunikasi. dan kami hanya berkomunikasi tentang pekerjaa...

Tak Lagi sama

Keluarga Sakinah. Satu kata yang sangat kami banggakan. Tapi tak lagi seperti itu bagiku. Karena tak ada lagi yang bisa aku percaya. Bagaimana bisa keluarga jika tak ada saling menghargai , bagaimana bisa keluarga jika saling menjatuhkan, bagaimana bisa sakinah jika memanfaatkan yang lainnya untuk diri sendiri.  Tak lagi sama. Bukan mungkin inilah sebenarnya. Membuatku ingin keluar dari ikatan itu, dan seolah-olah itulah jalan satu-satunya. Sekarang hanya perlu untuk bertahan hidup, jika saatnya tiba ini mungkin akan lebih mudah.  Yang terluka. An jum'at, 29 mei 2015